|
|
Pelayanan Membutuhkan Pengorbanan, Perjuangan, dan Kesabaran:
Sebuah Refleksi Perutusan KBP
K. Candra Dewi/VIII*
KBP?? Apa itu KBP?? Sebagai anak IPPAK seharusnya tahu apa itu KBP. Saya ingin berbagi pengalaman KBP di Paroki St. Stephanus Cilacap. Kami berlima ditugaskan di daerah terpencil, tepatnya di pulau Nusakambangan. Pasti teman-teman tahu khan pulau Nusakambangan dimana! Aku tinggal di salah satu umat, dan aku tinggal tidak sendiri tetapi kami diutus berdua.
Kami harus menempuh perjalanan selama 2 jam untuk menuju ke stasi yang dimana kami tinggal. Desa yang amat kecil, terpencil, dan sangat sepi. Di stasi tersebut belum ada listrik sehingga malam hari menjadi sangat gelap. Saya memang membawa laptop tetapi akhirnya tidak dapat digunakan sehingga kutitipkan kepada Romo Paroki saja. Umat dan masyarakat di tempat ini menerima kami dengan sangat ramah dan sangat terbuka atas kedatangan kami.
Apa sih yang dilakukan selama KBP? Yang rutin aku kerjakan adalah memimpin ibadat, memimpin pendalaman iman, PIA (pendampingan iman anak), kunjungan keluarga dan mempersiapkan Natalan di stasi yang akan dipimpin oleh uskup Purwokerto. Persiapan natal tersebut, misalnya membersihkan gereja, menghias altar, melatih lektor, melatih menari anak-anak, dan melatih koor umat. Itulah yang kami lakukan selama di stasi. Tetapi selain itu ada tugas kelompok yang dilakukan di paroki, seperti memberi retret SMP Imaculata, kaderisasi prodiakon, kunjungan ke LP Nusakambangan, dan jalan-jalan ke pantai pangandaran.
Umat di stasi Ujung Alang dimana kami tinggal sangat sederhana. Mata pencahariannya adalah nelayan dan petani. Nelayan biasanya bekerja malam hari dan petani bekerja pada waktu siang hari, jadi tidak mudah untuk mengumpulkan umat dalam ibadat maupun dalam pendalaman iman. Semula ibadat dijalankan di kapel namun karena ada permintaan umat akhirnya kami melayani dengan terpisah. Kalau pagi dilaksanakan di wilayah kapel (Motean) dan kalau sore dilaksanakan di wilayah Kalibener.
Dalam kunjungan keluarga , kami mendengarkan sharing pengalaman umat, serta mendengarkan keluhan-keluhan dan harapan umat. Kunjungan keluarga dilakukan saat kami tidak ada kegiatan. Dalam kunjungan, kami ditemani oleh ibu yang rumahnya kami tinggali. Rumah umat berjauhan sehingga kami harus menempuh perjalanan yang jauh, dan bahkan pernah kami harus menempuh perjalanan sekitar 8-9 km. Memang sangat melelahkan tetapi tetap kami laksanakan,supaya umat juga merasa diperhatikan oleh pihak Gereja.
Memang berat sekali berkarya tempat ini, tetapi lama kelamaan saya juga belajar untuk menghargai hidup, dan memaknai hidup bahkan juga dengan berbagai pengorbanannya. Dengan hidup di tengah-tengah nelayan, saya dapat belajar tentang kehidupan nelayan, bahasa nelayan (ngember dan ngangkat), mengalami pasang surutnya air laut dan sebagainya. Dengan hidup ditengah-tengah laut, saya juga dapat menikmati makanan lezat, seperti kepiting, udang, berbagai macam ikan dan kerang yang hidup di laut. Wah, sangat enak lho.
Belajar hidup sederhana dan menghargai uang, itulah yang saya rasakan ketika melihat anak-anak SD dan SMP harus berjalan kaki 8-9 km setiap harinya bahkan ada anak-anak yang berangkat dari rumah sekitar jam 5 pagi agar dapat bersekolah. Melihat masyarakat yang susah dan menderita tersebut, saya bisa belajar menghargai uang yang diberikan orangtua.
Hiburan yang kuperoleh di tempat KBP-ku adalah bekerja mencari kerang dan menikmati alam pantai yang indah. Saya pernah diajak untuk mencari kerang di lumpur sebelah rumah sedangkan lumpur itu sangat dalam sekali. Selain itu, kalau sore, saya sering berjalan-jalan untuk melihat pemandangan yang sangat indah. Bahkan, saya bisa melihat kunang-kunang yang sudah sekian lama jarang saya lihat.
Pengetahuan umat sangatlah minim, terlebih tentang hukum dan peraturan dalam gereja Katolik. Banyak sekali pelanggaran hukum kanonik. Wah, pokoknya di stasi ini semua yang diajarkan tentang hukum perkawinan tidak berlaku di stasi. Selain itu, kurang adanya pendamping atau tenaga pastoral bagi umat juga menyebabkan kedangkalan pengetahuan iman umat. Contoh yang banyak terjadi adalah kasus perkawinan beda agama. Umat di stasi ini juga semakin habis karena kurangnya pendampingan dari pihak paroki dan kurangnya tenaga pastoral. Selain itu, belum adanya guru agama yang mendampingi anak-anak juga menjadi kendala tersendiri. Disinilah tantangan dan tugas kita mendampingi mereka, supaya nama Tuhan semakin dimuliakan.
Maka, ayo semangat adik-adik tingkatku. Masih banyak umat yang membutuhkan kalian, masih banyak umat yang kurang memperoleh pelayanan dari paroki karena petugas pastoral yang sedikit. Jangan takut dengan KBP ya, karena KBP itu menyenangkan sekali, kita juga mendapatkan keluarga baru dengan KBP. Ayo semangat ya.
*) Katarina Candra Dewi, atau yang akrab dipanggil Dewi saat ini sedang menempuh skripsi di Prodi IPPAK-USD.
PANORAMA PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH DAN PEMBELAJARAN BERDASAR CARA KERJA OTAK ALAMIAH
Oleh: FX. Dapiyanta
Pendidikan Agama Katolik (PAK) atau yang sering disebut dengan kateketik baik di sekolah maupun di Paroki secara operasional dapat didefinisikan sebagai interaksi antara guru/pendamping dan murid/peserta, melalui serangkaian program (organisasi materi, metode/pola, media, dan evaluasi) yang bertitik tolak dari keadaan awal tertentu menuju tujuan atau kompetensi tertentu (winkel, 1989).
Seturut konsep di atas pemikiran tentang Pendidikan Agama Katolik (PAK) ini akan dipaparkan, yakni keadaan awal, tujuan, pola pembelajaran, materi, dan evaluasi. Pendidikan Agama Katolik yang dipikirkan selama ini meliputi Pendidikan Agama Katolik (PAK) di Paroki dalam berbagai bentuknya dan di Sekolah. Mengingat ruang yang terbatas paparan berikut dibatasi pada PAK di sekolah.
A. Keadaan Awal PAK
Keadaan awal adalah situasi dan kondisi yang potensial maupun yang nyata-nyata berpengaruh terhadap proses pendidikan. Keadaan awal yang nyata-nyata berpengaruh adalah situasi dan kondisi peserta didik terkait dengan pelajaran tertentu. Dalam pedagogi Ignatian keadaan awal ini dikenal dengan istilah konteks. Mengingat paparan ini lebih bersifat umum, tidak terkait dengan pelajaran tertentu, maka bagian berikut hanya akan disajikan keadaan awal potensial yang meliputi keadaan awal dari segi murid, guru, institusional, dan sosio-budaya.
1. Keadaan awal dari segi murid peserta PAK
Temuan kelompok murid dari hasil penelitian nasional tentang Deskripsi Model Pembelajaran dan Kualitas Guru PAK di Sekolah (Susento, 2007) menguatkan situasi dan kondisi kelompok murid yang telah dipaparkan pada lokakarya tentang Tempat dan Peranan PAKK di sekolah (1981), yakni adanya kelompok murid campuran pada sekolah swasta Katolik dan kelompok murid gabungan pada sekolah negeri. Pada sekolah swasta Katolik kelompok murid terdiri dari murid yang beragama Katolik maupun beragama lain. Misalnya, di Jawa Tengah bagian Utara dan Barat kelompok murid yang beragama lain jauh lebih banyak daripada murid yang beragama Katolik. Penulis pernah menghadapi kelas PAK yang tidak ada satupun murid yang beragama Katolik. Pada sekolah negeri kelompok murid adalah gabungan kelas 1,2,3 atau 4,5,6. Murid antar kelas tersebut digabung karena jumlah murid per kelasnya hanya sedikit, berkisar 1 sampai 5. Situasi semacam ini membutuhkan organisasi kurikulum yang berbeda dari kurikulum yang telah ditetapkan.
Realitas kelas, baik kelas campuran maupun kelas gabungan bukan merupakan kelas ideal untuk proses PAK. Situasi itu masih diperparah, khususnya di sekolah negeri mengenai ruang kelas. Di sekolah negeri pada saat pelajaran agama kelas dipakai untuk murid mayoritas, murid yang beragama Katolik harus mencari tempat sendiri. Dari penelitian (Susento, 2007) ditemukan bahwa PAK di sekolah negeri sering berlangsung di perpustakaan dengan berbagai keributan dan lalu lalang orang, di ruang OSIS (jika tidak dipakai), atau di Gudang. Dari segi waktu pelajaran, contoh kasus di DIY, PAK kadang berlangsung pada jam ke-0 (Pukul 6.15 sebelum kelas masuk) atau jam ke-8 (Pukul 13.00, setelah semua murid pulang).
2. Keadaan awal dari segi guru PAK
Hasil penelitian sebagaimana dirujuk di atas (Susento, 2007) menunjukkan bahwa 176 dari 289 guru sudah bergelar S-1. Rata-rata lama kerja berkisar 9-12 tahun. Dilihat dari kepangkatan sebagian besar guru masih pada tingkat IIIc. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan karier guru agama Katolik tergolong lambat. Dari berbagai permintaan pendampingan para guru agama Katolik diperoleh informasi bahwa hal yang menghambat karier tersebut adalah pada bidang karya ilmiah.
Di tempat-tempat khusus masih ditemukan guru agama Katolik yang bukan lulusan lembaga pendidikan guru agama Katolik melainkan guru pengajar bidang studi lain yang beragama Katolik. Di SD swasta Katolik cukup banyak ditemukan guru agama Katolik adalah guru kelas. Secara institusional baik regional dan nasional cukup lama guru diposisikan sebagai pelaksana, karena banyak hal sudah dirancang secara nasional sehingga guru tinggal melaksanakan.
3. Keadaan awal dari segi institusional
Sekolah-sekolah sekarang ini mengalami tekanan sedemikian rupa atas kebijakan ujian nasional. Oleh ujian nasional itu mata pelajaran non ujian nasional menjadi anak tiri, apalagi pendidikan agama. Waktu, perhatian, sarana, dan daya upaya sekolah sebagian terbesar dikerahkan demi suksesnya ujian nasional. Hal ini berdampak pada motivasi belajar anak maupun motivasi kerja guru, termasuk guru agama. Karena Pelajaran agama tidak direspon positif oleh anak-anak guru-guru pun kurang bersemangat mempersiapkan.
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal. Formal maksudnya bahwa segala hal yang dikerjakan di sekolah dilembagakan, diatur dalam undang-undang. Pelembagaan ini nampak dalam kurikulum, jadwal, perencanaan, evaluasi, dan sebagainya. Pendidikan nilai, termasuk di dalamnya pendidikan agama, yang diformalkan akan berujung pada konsep-konsep. Pendidikan agama justru ditangkap oleh murid dari keadaan informal atau dari kultur sekolah. Tyler (1986:55) mengemukakan bahwa untuk tujuan-tujuan sikap, baik terhadap diri sendiri, sesama, dan terhadap dunia tidak membutuhkan kurikulum yang eksplisit, melainkan kurikulum yang implisit. Secara faktual tipikal tujuan itu tidak dapat diberikan secara langsung dalam kurikulum yang eksplisit.
A first goal is that students develop an attitude toward self, others, and the world which is hopeful, purposeful, competent, and devoted. …. In fact, this goal typically is not dealt with directly in the explicit curriculum (that curriculum which sets forth goals dileberately and consciously) at all. While lip services is given to developing attitudes and values in the explicit curriculum, such development is always in regard to structured tasks and related to someone else’s attitudes. This new goal will be developed in the implicit curriculum.
4. Keadaan awal dari segi sosio-budaya
Orang menyebut zaman sekarang adalah zaman informasi, zaman audio-visual. Zaman audio-visual ini sering disebut juga sebagai zaman lisan kedua (Iswara, 2003). Pada zaman ini orang-orang mengalami perubahan pola pikir, pola rasa dan pola tindak. Pada zaman ini bukan lagi logika yang menjadi panglima dalam bertindak, melainkan rasa yang muncul dari indera dengar dan lihat, rasa yang dipengaruhi bahasa audio-visual. Contoh paling gamblang mengenai bahasa ini adalah iklan sebuah minuman di TV yang menayangkan suatu aktivitas minum lalu mengekspresikan dalam bentuk suara, bukan kata, bukan frasa, apalagi kalimat. Suara itu adalah “brrrrrr……!”. Dari suara itu orang sudah tahu maksudnya. Itulah bahasa audio-visual. Pada bahasa audio-visual, isi/pesan dan media tak terpisahkan. Media itulah pesannya.
Selain bahasa audio-visual hal-hal yang sudah menjadi wacana umum yang berkembang pada zaman ini adalah konsumerisme, materialisme hidonistik, individualisme, fundamentalisme, pluralisme, dsb.
B. Tujuan PAK
Memperhatikan konteks atau keadaan awal baik dari segi murid, guru, institusi, dan sosio-budaya tersebut tujuan PAK manakah yang realistik dapat dicapai? Kalau Pendidikan agama Katolik mau mencapai pengetahuan agama saja tentu tidak memuaskan, sebagaimana tergambar dalam latar belakang tulisan ini – dengar-dengar dalam pelajaran agama katolik anak-anak disuruh menghafal paramenta -; namun kalau mau mencapai tujuan penghayatan iman, realistiskah dengan konteks yang ada?
Memperhatikan konteks yang ada Lokakarya PAK di Malino (1981) yang merumuskan tujuan PAK secara minimal adalah: agar peserta didik mampu menggumuli hidupnya dari segi pandang kristiani dengan demikian mudah-mudahan menjadi manusia paripurna (beriman dewasa). Kurikulum PAK 1984 mengadopsi tujuan tersebut dengan rumusan: agar anak memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan untuk membangun hidup yang berarti menurut pola Yesus sebagaimana diwartakan oleh Gereja Katolik. Nampak bahwa tujuan tidak berhenti pada pengetahuan saja tetapi pengetahuan yang didayagunakan untuk membangun hidup dengan sebuah pergualatan iman. Tidak sembarang membangun hidup, membangun hidup dengan pola Yesus. Pembangunan hidup itu disadari merupakan pilihan bebas peserta didik. Maka dalam Lokakarya PAK di Malino dirumuskan dengan kata mudah-mudahan. Dalam proses tujuan yang lebih tergarap adalah pada aspek pemahaman diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Maka ada kesan pelajaran agama Katolik menjadi seperti budi pekerti, pengetahuan iman Katolik kurang dikuasai.
Sehubungan dengan keadaan di atas maka kurikulum PAK 1994 dirancang agar anak mampu memiliki pengetahuan iman Katolik yang memadai: mengenal dan mencintai tokoh-tokoh suci, mengenal dan mencintai Yesus, memahami sakramen dan 10 firman sebagai dasar hidup menggereja dan memasyarakat. Terhadap tujuan ini berbagai kalangan melontarkan tanggapan bahwa tujuan itu terlalu Katolik.
Kurikulum 2004 merupakan gabungan dari kurikulum 1984 dan 1994. Dari segi ide tidak nampak ada perkembangan meskipun kemudian diberi label kurikulum berbasis kompetensi.
Terkait dengan situasi kelas campuran Keuskupan Agung Semarang mengembangkan Pendidikan Religiusitas dengan tujuan agar siswa semakin peka/dapat menemukan kebaikan Allah, melalui kebaikan sesama dan alam dalam pengalaman hidupnya. Pendidikan ini dirasa menjawab tantangan sehingga sekolah-sekolah Kristen Protestan cukup banyak yang menggunakan pendidikan religiusitas ini. Pendidikan religiusitas merupakan pengolahan lebih lanjut dari kurikulum PAK 2004 secara nasional namun dengan manajemen secara mandiri. Hal ini membutuhkan keberanian sekolah dan yayasan untuk mengelolanya sehingga tidak begitu saja mengikuti kebijakan pemerintah.
Kurikulum 1984 memahami konteks sekolah yang formal dengan sistem evaluasi dan tuntutan nilainya maka merumuskan tujuan minimal pada aspek pemahaman. Tujuan pemahaman mudah dievaluasi dan dinilai secara objektif. Kurikulum 1994 meskipun harapannya membekali pengetahuan iman Katolik pada para murid namun tujuan dirumuskan secara afektif: mengenal dan mencintai. Tujuan kurikulum 1994 ini ternyata tidak disertai perubahan pada pendekatan dan sistem evaluasi. Meskipun tujuannya berciri afektif namun sistem evaluasi masih dengan tes maka yang muncul adalah pertanyaan yang bersifat hafalan (menghafal paramenta), padahal tidak dimaksudkan demikian. Paramenta tersebut tekait dengan pelajaran kelas III SD tentang sakramen inisiasi. Pelajaran tersebut mengiringi pendampingan anak di paroki untuk persiapan komuni I. Dalam proses inisiasi itu anak-anak dikenalkan dengan liturgi sakramen dengan tempat, waktu, dan alat yang dikhususkan untuk liturgi itu; sehingga anak-anak tidak merasa asing dan dapat mengikuti aktivitas Jemaat. Bagaimana tujuan PAK di Sekolah ke depan? Mengingat perkembangan bahasa audio-visual penulis cenderung ke rumusan tujuan yang lebih afektif sebagaimana dirumuskan dalam kurikulum PAK 1994 dengan persyaratan PAK di kelola lebih leluasa, tidak formal, dengan sistem evaluasi yang relevan, tidak melulu tes.
C. Pola Pembelajaran PAK
Guna mencapai tujuan minimal kurikulum PAK 1984 mengembangkan pola pembelajaran berbasis pengalaman, yakni menampilkan fakta, mengolah fakta untuk mengembangkan pengetahuan, dan merefleksikannya untuk membangun sikap. Kurikulum PAK 1994 mengembangkan pembelajaran dengan pola naratif-eksperiensial yakni menampilkan cerita rakyat atau cerita kehidupan beserta pendalamannya dan cerita kanonis beserta pendalamannya. Kurikulum PAK 2004 mengembangkan model pembelajaran dengan sebutan PAKEM: pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dengan tahap menampilkan pengalaman, interaksi peserta didik dengan pengalaman, mengkomunikasikan hasil interaksi dengan pengalaman tersebut dengan Tradisi, dan refleksi. Keseluruhan pola tersebut jika dirunut bermuara atau bersumber pada pedagogi Ignatian, dengan dinamika pengalaman, refleksi, dan aksi.
Akhir-akhir ini pola pembelajaran mulai mendasarkan diri pada hasil studi otak. Kita mengenal kecerdasan ganda, otak kanan-otak kiri, dan kemudian cara kerja otak alamiah dengan 5 aspek: emosi, sosial, kognitif, phisik, dan refleksi. Hasil studi cara kerja otak alamiah ini mengoreksi hasil studi tentang belahn otak: otak kanan-otak kiri. Menurut hasil studi cara kerja otak alamiah memang otak mempunyai sistem kerja otak kanan (pikir) -otak kiri (emosi) namun tidak persis di belahan kanan atau kiri. Jika untuk pikir belahan Kiri tidak berhasil membentuk sirkuit maka otak kanan akan mengambil alih (Given, 2007).
Otak manusia terdiri dari tiga lapis yakni otak kecil (otak reptil), otak tengah (sistem limbik), dan otak besar (neokorteks) dengan fungsi masing-masing yang khas. Otak besar (neokorteks) memiliki fungsi utama untuk berbahasa, berpikir, belajar, memecahkan masalah, merencanakan, dan mencipta. Kemudian, otak tengah (sistem limbik) berfungsi untuk interaksi sosial, emosional, dan ingatan jangka panjang. Otak kecil (otak reptil) sendiri menjalani fungsi untuk bereaksi, naluriah, mengulang, mempertahankan diri, dan ritualis.
Sel otak disebut neuron. Hubungan antar neuron disebut sinapsis, berbagai sinapsis terkumpul dalam klaster. Kumpulan beberapa klaster disebut modul. Ketika kita berpikir neuron-neuron saling terhubung dalam suatu klaster dan antar klaster secara fleksibel. Jalur hubungan antar neuron disebut sirkuit. Dari berjuta-juta sirkuit dapat dikelompokkan ke dalam lima sirkuit utama, yakni: emosi, sosial, kognitif, phisik, dan reflektif.
Prinsip pembelajaran yang berdasarkan cara kerja otak alamiah tersebut secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut. Orang akan belajar dengan baik pertama-tama kalau orang beremosi positif (senang), secara sosial ada saling penerimaan antar teman, secara kognitif ada tantangan untuk dipecahkan, secara phisik anak mendapat dukungan dengan sentuhan guru yang menimbulkan rasa aman (taktil) dan akan semakin memahami objek belajar dengan aktivitas menyentuh (taktual), dan pembelajaran semakin efektif jika seseorang mampu mengembangkan kesadaran akan keseluruhan sistem tersebut dengan merefleksikannya.
Memperhatikan hasil studi cara kerja otak alamiah, perkembangan bahasa audio-visual dan khasanah Tradisi yang banyak tersimpan dalam bentuk karya seni, penulis pernah mengusulkan untuk salah satu yayasan model pembelajaran agama terpadu dengan bidang studi kesenian (seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni suara) serta olah raga. Misalnya: pelajaran tentang tokoh Yusuf. Pelajaran ini dikaji dengan dramatisasi. Anak-anak dilibatkan untuk memahami kisah Yusuf dan menyusunnya dalam bentuk naskah drama (tidak harus keseluruhan). Hal ini memberi tantangan yang relevan dengan pembelajaran kognitif. Dalam drama itu ada tarian misalnya untuk mengungkapkan mimpi Yusuf yang diiringi nyanyian dan musik (seni tari, seni musik, dan seni suara) dan senam berirama (olah raga). Dalam pentas tentu memerlukan dekorasi (seni rupa) yang melibatkan anak. Hal ini relevan untuk pembelajaran emosi, sosial dan phisik. Dengan itu bentuk pelajaran agama adalah latihan drama dengan berbagai seninya itu. Selama proses dan pada pentas, masing-masing bidang studi dapat mengembangkan penilaian dan pelajaran agama dapat mengevaluasi dengan berbagai alat termasuk meminta anak berefleksi tentang perannya. Guru-guru bidang studi lain menyambut positif hal ini karena mereka memiliki tema untuk bidang studinya. Anak-anak akan bersemangat karena belajar mereka akan dipentaskan di sekolah.
D. Materi Pembelajaran PAK
Materi pembelajaran PAK dalam berbagai kurikulum selama ini adalah pengalaman dan Tradisi Kristiani. Tradisi kristiani yang dipakai selama ini Kitab Suci dan ajaran Gereja. Kurikulum PAK 1994 sudah mencoba materi baru berupa naskah cerita. Mengingat perkembangan audio-visual naskah cerita tersebut jika dilengkapi dengan karya seni dan dikaji melalui ekspresi kesenian tentu lebih menarik karena pengkajian itu melibatkan berbagai kecerdasan atau keseluruhan fungsi otak.
E. Evaluasi
Memperhatikan arah tujuan, pola pembelajaran, dan materi tentu evaluasi tidak cukup hanya dengan alat tes. Kurikulum PAK 2004 sudah mengakomodasi berbagai alat evaluasi seperti: wawancara, dokumentasi dalam bentuk portofolio, penugasan, skala sikap dan sebagainya yang tidak melulu tes.
Kepustakaan
Ajaran dan Pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik. 1991. Jakarta: Gramedia.
Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Layanan pendidikan berbasis luas dengan pembekalan kecakapan hidup di SMU, pedoman pengembangan kultur sekolah. Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Depdikbud, 1986. Kurikulum Sekolah Dasar, Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Jakarta: Depdikbud.
Depdikbud. 1993. Kurikulum Sekolah Dasar, Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2004. Kurikulum Sekolah Dasar, Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.
Drost, J.I.G.M.,S.J. 1998. Sekolah: mengajar atau mendidik? Yogyakarta: Kanisius.
Given, Barbara K. 2007. Brain Based Teaching, Merancang kegiatan Belajar-Mengajar yang melibatkan Otak Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetis, dan Reflektif. Bandung: Kaifa.
Heryatno Wono Wulung, FX. SJ., dkk. (editor). 2000. Katekese pada Millenium III: Quo Vadis? Yogyakarta: Penerbitan Sanata Dharma.
Havighurst, Robert J. & Neugarten, Bernice L. 1964. Society and education. Boston: Ally & Bacon Inc.
Iswarahadi, Y.I., SJ. 2003. Beriman dengan Bermedia, Antologi Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius.
Jacobs, Tom SJ., dkk 1992. Silabus Pendidikan Iman Katolik melalui Pelajaran Agama Katolik pada Tingkat Pendidikan Dasar 9 tahun. Yogyakarta: Kanisius.
Kaswardi, K., E.M. (1993). Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta: Grasindo.
Sumarno M., S.J. (Ed.). (1995). Bunga rampai pendidikan iman. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Sanata Dharma.
Sutrisno, Mudji. (2001). “Pembatinan nilai”, http://www.gamma.co.id/artikel/43-3-18-12-2001.
Tempat dan peranan pelajaran agama Katolik di sekolah. (1981). Jakarta: P.W.I. Kateketik.
Tyler, Louise L. (Winter, 1986). Meaning and schooling. Theory into practice, Volume XXV, Number 1, pp. 53-57.
Winkel, W.S. (1989). Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia.
Komentar Terakhir